Skip to main content
Pelajar Koding

follow us

11 Alasan Mengapa Banyak Negara Di Afrika Miskin Dan Ndeso | Hedi Sasrawan

Afrika ialah benua yang kaya akan sumber daya alam. Tetapi , benua ini justru menjadi benua termiskin di dunia. Total PDB semua negara di Afrika hampir sepertiga dari PDB Amerika Serikat. Meskipun demikian , pertumbuhan ekonomi negara-negara Afrika merupakan salah satu yang tercepat di dunia. Meskipun masih ada sejumlah negara yang dilanda konflik dan kemiskinan yang luar biasa. Kemiskinan di Afrika sepertinya sulit dipecahkan dan ada perdebatan wacana penyebabnya. Penyebab umumnya ialah perang , kerusuhan , korupsi , politik yang tidak stabil , dan rezim pemerintah yang lalai. Mengapa Afrika banyak mempunyai negara miskin dan terbelakang? Langsung saja kita simak yang pertama:

Baca juga: 20 Negara Miskin di Benua Afrika

Kigali , Rwanda

Sesungguhnya , tidak semua tempat di Afrika identik dengan kumuh , miskin , dan penuh konflik. Ada satu kota menyerupai Kigali , ibukota Rwanda , sebuah negara kecil di tengah Afrika , bahkan jauh lebih rapi , higienis , dan tertata dibandingkan ibukota Indonesia.

1. Kurangnya Investasi

Selama 40 tahun terakhir , tingkat investasi di Afrika semakin menurun. Peringkat hutang yang jelek menjadikan negara-negara di Afrika tidak layak investasi. Hal itu disebabkan oleh aneka macam duduk masalah mulai dari konflik hingga pemerintah yang korup. Bahkan , sebagian besar investasi dipakai untuk hal yang tidak penting dan tidak efisien.

2. Infrastruktur yang Kurang Memadai

Menurut para peneliti di Overseas Development Institute , kurangnya infrastruktur di banyak negara di Afrika menjadi batasan paling signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pencapaian tujuan pemerintah. Investasi dan pemeliharaan infrastruktur bisa sangat mahal , terutama di negara terkurung daratan dan tempat pedesaan yang jarang penduduknya.

3. Kualitas Sumber Daya Manusia

Kualitas sumber daya insan Afrika paling jelek di dunia. Jumlah anak yang melakukan pendidikan dasar sangat sedikit. Banyak penduduk yang tidak menyadari pentingnya pendidikan sehingga lebih baik anak-anaknya disuruh bekerja membantu orangtua ketimbang menempuh pendidikan. IPM negara di Afrika juga tergolong rendah yang salah satu penyebabnya ialah angka impian hidup yang rendah.

4. Dampak Kolonialisme

Dampak ekonomi dari kolonisasi Afrika telah diperdebatkan. Beberapa peneliti beropini bahwa Eropa mempunyai dampak positif terhadap Afrika , sedangkan ada juga yang beropini bahwa pembangunan Afrika dihambat oleh pemerintahan kolonial. Tujuan utama pemerintahan kolonial di Afrika oleh Eropa ialah untuk mengeksploitasi kekayaan alam di benua Afrika dengan biaya rendah. Beberapa penulis menyerupai Walter Rodney dalam bukunya How Europe Underdeveloped Africa beropini bahwa kebijakan kolonial ini secara pribadi bertanggung jawab untuk banyak duduk masalah pada Afrika modern. Kolonialisme melukai pujian , harga diri , dan kepercayaan Afrika. Frantz Fanon menambahkan bahwa imbas sebetulnya dari kolonialisme bersifat psikologis bahwa dominasi kekuatan absurd membuat rasa inferioritas dan penaklukan abadi yang membuat penghalang untuk pertumbuhan dan inovasi. Argumen itu menunjukan bahwa generasi gres orang Afrika yang bebas dari fatwa dan referensi pikir kolonial bermunculan dan hal itu sanggup mendorong transformasi ekonomi.

Sejarawan L.H. Gann dan Peter Duignan beropini bahwa Afrika mungkin diuntungkan dari kolonialisme. Kolonialisme dianggap sebagai mesin paling manjur untuk difusi budaya. Pandangan kolonialisme sebagai hal yang jelek ditentang. Sejarawan ekonomi David Kenneth Fieldhouse mengambil jalan tengah dengan menyampaikan bahwa imbas kolonialisme benar-benar terbatas dan kelemahan utamanya bukan dalam keterbelakangan yang disengaja tetapi apa yang gagal dilakukan. Niall Ferguson oke dengan pon terakhir dengan alasan bahwa kelemahan utama kolonialisme ialah kelalaian. Analis ekonomi negara-negara Afrika menemukan bahwa negara-negara merdeka menyerupai Liberia dan Ethiopia tidak mempunyai kinerja ekonomi yang lebih baik ketimbang negara-negara pasca-kolonial lain. Secara khusus , kinerja ekonomi bekas koloni Inggris lebih baik daripada negara-negara merdeka dari bekas koloni Perancis.

Kemiskinan relatif Afrika mendahului kolonialisme. Jared Diamond beropini dalam bukunya yang berjudul Guns , Germs , and Steel bahwa Afrika selalu miskin lantaran sejumlah faktor ekologis yang mempengaruhi perkembangan sejarah. Faktor tersebut termasuk kepadatan penduduk yang rendah , kurangnya binatang ternak dan tumbuhan , dan kondisi geografi Afrika. Namun teori Diamond telah dikritik oleh beberapa orang. Sejarawan John K. Thornton beropini bahwa Afrika sub-Sahara relatif kaya dan berteknologi maju hingga setidaknya kala ke-17.

5. Ketidaksetaraan Pendapatan

Orang miskin di Afrika sangat menderita dengan pendapatan yang sangat kecil. Bahkan banyak dari mereka yang mati kelaparan. Sedangkan orang kaya mendapat pendapatan yang sangat besar. Hal tersebut sering menjadikan konflik yang memicu ketidakstabilan di sejumlah negara di Afrika.

6. Perbedaan Bahasa yang Sangat Luas

Negara-negara Afrika menderita kesulitan komunikasi yang disebabkan oleh keragaman bahasa. Indeks keragaman Greenberg ialah peluang 2 orang yang dipilih secara acak akan mempunyai bahasa ibu yang berbeda. Dari 25 negara yang paling bermacam-macam berdasarkan indeks ini , 18 diantaranya ialah orang Afrika. Ini termasuk 12 negara yang mempunyai indeks keragaman Greenberg melebihi 0 ,9 yang berarti sepasang orang yang dipilih secara acak akan mempunyai kurang dari 10% kemungkinan mempunyai bahasa ibu yang sama. Namun , bahasa utama pemerintah , debat politik , wacana akademis , dan manajemen sering memakai bahasa bekas penjajah kolonial menyerupai Inggris , Perancis , dan Portugis.

7. Alokasi Anggaran dan Penggunaan Hutang Luar Negeri yang Tidak Bijak

Negara-negara Afrika kerap menginvestasikan uangnya untuk hal yang tidak mempunyai dampak jangka panjang menyerupai senjata dibandingkan mesin industri. Akibatnya , banyak negara demokratis gres di Afrika yang dibebani hutang sebagai hasil dari rezim totaliter. Anggaran sering disalahgunakan untuk membuatkan mega proyek yang tidak berguna. Seperti pembangunan bendungan di Ghana dan Mesir yang justru merusak lingkungan dan tidak berguna.

8. Persaingan Perdagangan

Teori ketergantungan menyatakan bahwa kekayaan dan kemakmuran negara adikuasa dan sekutunya di Eropa , Amerika Utara , dan Asia Timur bergantung pada kemiskinan di seluruh dunia termasuk Afrika. Ekonom yang menganut teori ini percaya bahwa tempat yang lebih miskin harus memutuskan hubungan dagang mereka dengan negara maju supaya bisa makmur.

Teori yang lebih tidak radikal menawarkan bahwa proteksionisme ekonomi di negara maju menghambat pertumbuhan Afrika. Ketika negara-negara berkembang memanen hasil pertanian dengan biaya rendah , mereka umumnya tidak mengekspor sebanyak yang diharapkan. Berlimpahnya subsidi pertanian dan tingginya tarif impor di negara maju menyerupai Jepang , Uni Eropa , dan Amerika Serikat dianggap menjadi penyebabnya. Meskipun subsidi dan tarif telah dikurangi secara sedikit demi sedikit , tetap saja masih tinggi.

Kondisi domestik juga mempengaruhi ekspor. Over-regulasi di beberapa negara Afrika justru mencegah ekspor. Penelitian oleh Jane Shaw menawarkan bahwa intervensi negara besar menekan pertumbuhan ekonomi Afrika. Petani hanya bisa melayani pasar lokal lantaran peluang ekspor sangat sedikit. Karena terdesak pasar , para petani berinovasi lebih sedikit sehingga menumbuhkan lebih sedikit masakan yang semakin menggerogoti kinerja ekonomi.

9. Konflik Berkepanjangan

Negara-negara di Afrika dikenal rawan konflik dan kekerasan menyerupai di Sudan Selatan , Somalia , Zimbabwe , Sudah , Chad , dan Republik Demokratik Kongo. Pemerintah Somalia bahkan tidak mempunyai otoritas atas sebagian besar daerahnya sehingga disebut negara gagal. Perang saudara di Republik Demokratik Kongo dan Sudan Selatan telah membuat sebagian warga hidup di bawah garis kemiskinan. Kekayaan alam dan mineral habis untuk mendanai perang dan kepentingan pribadi. Selain itu , ada juga pergolakan etnis yang semakin memperparah konflik di Afrika.

10. Pemerintah yang Tidak Stabil dan Korup

Meskipun pada tahun 1960-an tingkat pendapatan Afrika dan Asia sama , Asia melampaui Afrika semenjak itu. Salah satu ekonom beropini bahwa pembangunan ekonomi Asia yang pesat dihasilkan dari investasi lokal. Korupsi di Afrika salah satunya berupa pemindahan modal finansial yang dihasilkan negara tidak untuk investasi di negaranya sendiri , melainkan disimpan di luar negeri. Stereotip para diktator Afrika dengan rekening bank Swiss seringkali akurat. Peneliti dari University of Massachusetts memperkirakan bahwa dari 1970 hingga 1996 , pelarian modal dari 30 negara sub-Sahara mencapai US$ 187 miliar melebihi utang luar negeri negara tersebut. Pejabat seringkali menyimpan kekayaan mereka di luar negeri dan kemungkinan tidak akan diambil untuk masa depan.

Meskipun korupsi menjadi duduk masalah umum di setiap negara , di Afrika seringkali lebih parah. Banyak penduduk orisinil Afrika percaya bahwa hubungan keluarga lebih penting daripada profesionalisme sehingga orang-orang berwenang sering memakai nepotisme dan penyuapan untuk kepentingan mereka.

11. Bantuan Luar Negeri

Kebanyakan kelaparan lebih disebabkan oleh kurangnya pendapatan dibandingkan kekurangan makanan. Dalam situasi menyerupai ini , pinjaman masakan (sebagai lawan dari pinjaman keuangan) mempunyai imbas menghancurkan pertanian lokal dan memberi manfaat bagi agribisnis Barat yang sangat overproduksi masakan sebagai akhir dari subsidi pertanian. Secara historis , pinjaman masakan lebih tinggi berkorelasi dengan kelebihan pasokan di negara-negara Barat daripada kebutuhan negara-negara berkembang. Bantuan luar negeri telah menjadi kepingan dari pembangunan ekonomi Afrika semenjak 1980-an.

Model pinjaman telah dikritik lantaran menggantikan inisiatif perdagangan. Bukti yang berkembang menawarkan bahwa pinjaman luar negeri justru membuat benua tersebut menjadi lebih miskin. Salah satu kritikus terbesar dari model pinjaman ialah ekonomi Dambiso Moyo (seorang ekonom Zambia yang berbasis di Amerika Serikat) yang menyoroti bagaimana pinjaman absurd telah menjadi penghalang bagi pembangunan lokal.

Saat ini , Afrika menghadapi duduk masalah penerimaan pinjaman absurd di tempat yang ada potensi penghasilan tinggi. Afrika membutuhkan lebih banyak kebijakan ekonomi dan partisipasi aktif dalam ekonomi dunia.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar